Ruang Pertunjukkan ( Auditorium )

Gedung pertunjukkan adalah area di mana seorang penyaji dapat mempertontonkan bahan pertunjukkannya kepada penikmatnya. Ada 4 macam panggung yang terdapat dalam sebuah gedung pertunjukkan :

  • Panggung Proscenium , yaitu bentuknya konvensional, penonton hanya melihat pengisi acara dan tidak ada kontak komunikasi . Seperti contohnya, panggung-panggung untuk musik klasik, tarian klasik dsb.
  • Panggung Terbuka, yaitu panggung yang menunjukkan terjadinya komunikasi dan kontak fisik antara pengisi acara dan penonton, seperti contohnya panggung konser band rock, pop dsb.
  • Panggung Area, yaitu panggung yang posisinya berada di tengah.
  • Panggung Extended adalah panggung yang merupakan pengembangan dari panggung proscenium, entah itu bentuknya yang bisa menjalar juga ke area tengah atau penyesuaian bentuk yang tetap konvensional namun memungkinkan adanya sedikit komunikasi antara penyaji dengan penonton.

Lantai panggung biasanya memiliki tinggi 80-90 cm dari lantai, yaitu setengah dari ukuran tubuh manusia kira-kira, dan diberi peredam suara. Ada persyaratan khusus dalam mendesain auditorium, yaitu :

  • Auditorium harus mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga penonton dapat sedekat mungkin dengan sumber suara.
  • Setiap penonton selain menerima suara refleksi juga harus menerima suara langsung.
  • Khusus untuk pertunjukkan musik, harus memiliki rasio bass yang cukup tinggi untuk memberi kesan kehangatan, serta menghindari penggunaan panil-panil tipis misalnya papan kayu ¾’ yang akan meredam bunyi frekuensi rendah.
  • Menghindari permukaan-permukaan yang menyebabkan gema (echo), lecutan ( seperti lecutan akibat pantulan yang cepat), rayapab ( bunyi yang merambat di permukaan kubah).
  • Kepadatan tempat duduk 0,6-0,8m2
  • Untuk ruangan berbentuk persegi panjang dengan panggung depan, volume ruang per orang adalah 8 m2. Untuk penggung tengah volume ruang per orang adalah 13 m2.
  • Permukaan pemantul bunyi di dekat panggung harus dapat memantulkan bunyi kembali ke panggung sehingga pemain dapat merasakan respon ruangan yang memadai.
  • Permukaan dinding samping langit-langit, dinding balkon dan dinding panggung harus dapat memantulkan bunyi secara baur , dan hindari bentuk-bentuk rata.

Berikut adalah contoh penataan perambaan suara dengan menggunakan bentuk yang disesuaikan dengan struktur atap dan instalasi:

1. Bentuk Cekung
Bentuk cekung untuk bangunan auditorium membawa efek pada bentuk eksterior, kemudian bentuk cekung juga menimbulkan efek focal point atau sebagai pusat arah pantulan suara, disebut whispering gallery atau gema yang merambat. Bentuk cekung tersebut bila diolah menurut rambatan suara akan lebih mendukung kondisi akustik.

2. Bentuk Cembung
Permukaan langit-langit yang melengkung cembung dengan penyusunan seperti gambar akan dapat memantulkan bunyi secara merata, memenuhi ruangan dan bagus untuk musik.

Selain dari bentuk langit-langit yang mendukung, hal yang harus diperhatikan lagi adalah penataan kursi penonton. Pada auditorium selalu memanfaatkan posisi kemiringan lantai pada posisi duduk penonton, agar semua penonton dapat menerima pantulan bunyi secara merata dan dapat menyaksikan pertunjukkan yang disajikan. Dalam penggabungannya sekaligus, penggunaan sistem langit-langit dan kursi penonton memilki hubungan terkait dalam rangka merambatkan bunyi. Hubungan antara penggunaan bentuk ceiling dan pengaturan kursi disebut metode geometri. Penggunaan metode geometri tersebut ditujukan untuk merefleksikan suara pada auditorium besar. Berikut adalah hubungan antara penerapan bentuk ceiling dan pengaturan kursi audience ( Metode Geometri ). Untuk dinding, digunakan bentuk-bentuk akustik yang bisa berfungsi sebagai reflektor. Tidak hanya hal-hal di atas, tetapi posisi penyaji terutama orkestra memilki ketentuan khusus (menyebar). Bentuk menyebar tersebut dimanfaatkan karena di dalam orkestra terdapat berbagai macam alat musik yang digunakan dengan intensitas suara yang berbeda-beda. Dengan komposisi yang sedemikian rupa, maka harmonisnya suatu alunan orkestra dapat tercipta dengan baik dan menjadi satu kesatuan bunyi yang enak untuk didengarkan.

Sumber : Suptandar, J.Pamudji. Faktor Akustik Dalam Perancangan Disain Interior. Djambatan, Jakarta. 2004; Satwiko, Prasasto.Fisika Bangunan 2 Edisi 1. ANDI ,Yogyakarta. 2004.

Komentar . . . .

Komentar

Powered by Facebook Comments